
Dari awal mula yang tak terduga, Tsabina hadir ke dunia.
Tsabina adalah bayi yang kami tunggu setelah 4 tahun lamanya. Dikala itu telah berbagai cara kami usahakan, namun belum memberikan hasil yang signifikan. Bahkan saya dan suami sudah berada di fase setengah pasrah terhadap situasi. Memang pada saat itu, beberapa bulan sebelumnya saya dan suami melakukan beberapa ikhtiar (ikhtiar saya dan suami klik disini), walau pada saat itu tamu bulanan saya kerap datang.
Hingga pada suatu hari, tepatnya beberapa hari sebelum Idul Adha 2024, suami mengajak saya untuk wisata rohani ke Makam Malik As-Salih, geudong. Dikala itu kami hanya berniat untuk ziarah makam seperti biasa, berhubung suami saya penggiat ziarah dan sangat menghargai sejarah islam.
Sore itu, kami datang berdua. Disela-sela ziarah kami, kami dipertemukan oleh salah satu penjaga makam yang bernama Abi Dun. Abi Dun dikala itu menghampiri saya dan bertanya kepada saya, “Golom na aneuk nye?” tanya nya dalam bahasa Aceh yg berarti ‘belum ada anak ya’? Saya jawab iya tengku, kami menikah sudah menjelang 4 tahun. Beliau lalu berkata ketika suami saya,
“Apakah mau kalian mengambil air dari sini untuk mendapatkan keturunan? Tetapi semua kembali kepada Allah SWT. Minta ke-Allah, melalui syafaat Malik-As-Salih.”
“dan satu lagi, apabila benar dalam waktu dekat Ibu (saya) hamil, anak itu adalah anak dari daerah sini. Harus turun tanah disini,” katanya dalam bahasa Aceh.
Saya dan suami tentu setuju, karena sama sekali tidak memberatkan dan niatkan sebagai ikhtiar.
Sepulangnya kami dibekali air sebanyak 1 botol air mineral besar, untuk diniatkan mendapat keturunan yang merupakan izin Allah SWT. Air itu sendiri dihimbau untuk diminum dan dicampurkan kedalam air galon yang biasa dikonsumsi dirumah. Singkat kata, saya dan suami melakukan sebagaimana yang diarahkan Abi Dun.
Sehari setelah minum air itu, entah mengapa perut saya langsung terasa ga nyaman. Berhari-hari berlalu, semakin lama semakin ga nyaman.
Awalnya saya sempat curiga dan seuzon, apakah..?
Akhirnya dua minggu kemudian, perut saya semakin tidak karuan. Karna mendekati masa haid, sore itu saya berencana ke kota untuk membeli ramuan cinta (ramuan pelancar haid). Entah mengapa, saat itu saya kepikiran untuk sekalian mampir membeli testpack. Yg murah saja, karna biasanya saya beli yang 15rb satunya, kali ini beli yg 2rb an karna yaaaa iseng aja.
Ga nunggu besok, maghrib itu juga saya ke kamar mandi untuk test karena rencana malamnya mau minum ramuan cinta yang sudah saya beli tadi. Saya sudah biasa melihat garis satu di testpack, tidak ada ekspektasi apapun, aah paling seperti biasa.
Garis satu jelas merah menyala ketika awal saya celupkan, saya langsung bergumam dalam hati..”tuh kan kayak biasaa..” tetapi tidak lama kemudian tiba-tiba garis kedua muncul. Dan ternyata garis awal adalah garis indikator hamil???. Garis dua itu terpampang nyata, jelas, merah berbinar.
Saya ulangi dan habiskan testpack 2rb an itu 3 batang. Hasilnya sama. Saya melongo di depan cermin. Kok bisa? harusnya ga gini harusnya garisnya satuu. Alis saya berkerut, bingung yang saya tidak duga-duga. Dikala itu saya sujud syukur, walau dalam keadaan setengah bingung. Saya melihat diri saya yang baru didepan cermin, mengusap perut rata saya sambil terus-terusan berkata “apa iya?”. Saya bahagia, tapi bahagia yang sulit untuk dijelaskan karena masih tidak menyatu dengan realita.
Waktu rasanya lamaaa sekali menunggu suami saya pulang takziah. Kebetulan di hari itu meninggal salah satu ayah karyawan, sehingga suami saya melayat sampai larut malam hampir ke pagi. Jam 3 subuh, tidak lama setelah suami saya sampai dirumah dan beres-beres, saya tidak sanggup lagi menahan rasa bengong yang memuncak ini. Saya kabarkan ke suami saya, disaat lampu sudah dimatikan dan testpack disenter pakai hp.
Tentu suami saya awalnya tidak percaya, dan disambung menit menit selanjutnya bersyukur tak terkira. Menangis, bersujud, memeluk. Akhirnya kabar bahagia ini menghampiri kami. Sorenya di hari yg sama, kami bergegas pergi ke obgyn terpercaya, dengan hati berdebar-debar untuk klarifikasi apakah benar yang sedang terjadi saat ini?
Dan ternyata benar, Tsabina telah hadir disini, berukuran sebesar biji polong. Biji polong yang membuat kami berjuta kali mengucap syukur yang tak terhingga. Dikala itu belum terdengar detak jantungnya, dr menyarankan untuk kembali lagi dua minggu kemudian. Namun benar, kantung kehamilan telah terbentuk. Janin sedang berjuang. Hati kami riang tetapi juga deg-degan menunggu minggu berikutnya.

Tak terasa, janin seukuran kacang polong itu, sekarang sudah bisa kami genggam. Kami gendong, sering pergi setiap bulannya ke ‘Tanah Asalnya’, bertemu dengan Abi Dun juga tentunya.
InsyaAllah, Jika Allah SWT telah berkehendak, semua akan menjadi mudah. InsyaAllah.


Haruuu ðŸ˜
disimpan disini lewat tulisan biar haru nya aweeet sampe tsabin gede :))